Investasi Properti

2016 akan mulai fase baru di sektor properti sesuai siklus 3-4 tahun

Indonesia Property Watch (IPW) memprediksi kondisi industri properti tahun depan akan memasuki fase baru di mana harga akan mulai merangkak naik dari posisi tahun ini yang berada di titik terendah.

Survei harga properti residensial Bank Indonesia menunjukkan, hingga kuartal II 2015, pertumbuhan harga properti mencapai 5,95%, level terendah sejak kuartal 4 2012.

Menurut hasil riset Indonesia Property Watch (IPW) akan ada kenaikan rata-rata harga jual properti sepanjang tahun 2016 sebesar 5%-10%.

“2016 akan mulai fase baru, sesuai siklus 3-4 tahun, akan booming lagi di 2020. Tahun depan (2016) kenaikan harga properti diprediksi mencapai 5%-10%,” ujar‎ Direktur Eksekutif IPW, Ali Tranghanda dalam paparan di acara Mandiri Property Outlook 2015 di Shangri La Hotel, Jakarta, Senin malam (7/12/2015).‎

Kenaikan harga properti tahun depan kata dia, didorong oleh pesatnya pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah mulai tahun 2015 ini dan mulai dirasakan dampaknya pada pertengahan 2016 mendatang.

“Realisasi belanja infrastruktur memang tidak akan pesat, namun itu cukup untuk merangsang pergerakan harga properti,” kata dia.‎

Prediksi kenaikan harga tahun depan pun menjadi titik balik tanda pasar properti telah memasuki fase baru. Di mana, tahun 2014-2015 pertumbuhan harga properti berada pada titik terendahnya karena pasar properti yang semula dikuasai kalangan Investor sudah mulai mengalami kejenuhan.

Tak hanya mengalami kenaikan. Dalam 5 tahun ke depan pun kata dia, harga yang terbentuk di pasar properti akan lebih sehat karena didominasi oleh pembeli rumah pertama alias kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan rumah untuk tempat tinggal.

Sementara itu, dalam 5 tahun terakhir menurut Ali ‎pasar properti lebih didominasi kalangan investor sehingga harga yang terbentuk cenderung lebih tinggi dari harga sebenarnya alias overvalue.

“Banyak yang overvalue, harga normal itu perbedaan antara primer dan sekunder 5%-10%, di atas itu gak normal,” pungkasnya.‎

Sumber : detik/istimewa

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top