Tips Membeli Properti

Kenali sistem pembayaran properti

Ada beberapa skema pembelian properti yang lazim dilakukan para pengembang maupun penjual individu atau non-pengembang. Berikut adalah penjelasan masing-masing skema dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Tunai/Cash Keras

Metode pembayaran tunai keras adalah jika Anda melakukan pembayaran harga properti secara penuh dalam waktu kurang lebih satu bulan setelah kesepakatan pembelian. Biasanya, setelah sepakat membeli properti, Anda akan memberikan uang tanda jadi kepada pengembang atau penjual pribadi. Tanda jadi ini biasanya hanya beberapa persen dari total harga properti. Sisanya dibayarkan dalam kurun waktu satu bulan usai kesepakatan.

Cara ini cocok dilakukan jika Anda memiliki dana ‘menganggur’ dalam jumlah cukup besar. Yang dimaksud dengan dana ‘menganggur’ adalah dana yang memang tidak Anda gunakan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari ataupun dana darurat.

Kelebihan: Selain tidak memiliki kewajiban hutang atau membayar angsuran dalam jangka waktu panjang, keuntungan metode pembayaran ini adalah adanya Anda berpeluang mendapat potongan harga yang lebih besar dibandingkan cara pembayaran lainnya. Pihak pengembang memang biasanya mengiming-imingi calon pembeli properti dengan diskon cukup besar jika mereka bersedia membayar tunai.

Kekurangan: Tentu saja, tidak semua orang dapat melakukan cara pembayaran ini. Anda membutuhkan modal cukup besar, karena harga properti di Jakarta sangat tinggi. Bukan hanya menyiapkan uang tunai dalam jumlah besar, Anda pun sulit melakukan investasi lain karena sebagian besar dana yang Anda miliki harus dialokasikan untuk pembelian rumah. Selain itu, jika Anda bertemu pengembang ‘nakal’, risiko penguasaan dan kepemilikan sertifikat bisa saja tertunda.

Tips

  1.    Untuk meminimalisir risiko ketika membayar properti dengan cash keras, buatlah perjanjian dengan pihak developer atau penjual di hadapan notaris
  2.   Transaksi sekecil apapun dengan pengembang atau penjual harus dibuatkan tanda terima yang jelas dan sesuai dengan kaidah hukum (misalnya setelah membayarkan uang tanda jadi, minta pengembang atau penjual membuatkan kwitansi bermaterai Rp 6.000)
  3.   Mulai tinggali rumah atau apartemen setelah pembayaran mencapai 30% dari harga properti. Anda bisa meminta pengembang atau penjual memenuhi permintaan tersebut.
  4.      Arahkan penjual atau pengembang bertransaksi dengan cara transfer antar rekening bank. Hindari transaksi dengan cara tunai.
  5.      Pelunasan properti dilakukan bersamaan dengan penandatanganan Akta Jual Beli (AJB) di hadapan notaris dan diikuti dengan penyerahan sertifikat asli properti. Perlu diketahui, jika Anda melakukan penandatanganan di hadapan notaris namun tidak diikuti penyerahan sertifikat asli, maka itu bukanlah AJB, melainkan sekedar Perjanjian/Pengikatan Penandatanganan Akta Jual Beli. Hal ini perlu Anda ketahui agar tidak tertipu oleh pengembang nakal.

Tunai Bertahap / Cash Lunak

Tunai bertahap adalah metode pembayaran yang dilakukan secara bertahap namun dalam kurun waktu yang lebih singkat dibandingkan angsuran melalui bank atau KPR. Umumnya, metode pembayaran ini membutuhkan waktu 6 hingga 24 bulan.

Kelebihan: Pembeli yang memilih metode pembayaran tunai bertahap biasanya juga mendapatkan diskon dari penjual atau pengembang, meskipun tidak sebesar konsumen tunai keras. Anda juga tidak perlu direpotkan dengan administrasi karena cicilan tidak dibayarkan kepada bank, melainkan langsung kepada pengembang. Kelebihan lain metode pembayaran ini adalah Anda tidak perlu menanggung hutang dalam waktu lama.

Kekurangan: Nilai angsuran atau cicilan yang harus Anda bayarkan cukup besar karena jangka waktu pelunasannya lebih pendek dibandingkan KPR. Uang muka atau DP yang harus dibayarkan juga umumnya lebih besar dibandingkan pembayaran tunai keras.

Tips

Seperti halnya membayar dengan tunai keras, ada baiknya Anda membuat kesepakatan hukum dengan penjual atau pengembang di hadapan notaris. Minta pengembang dan penjual membuat kwitansi untuk semua transaksi yang Anda lakukan dan hunilah properti setelah melakukan pembayaran uang muka 50%. Ketika memasuki 6 bulan masa angsuran, sertifikat asli rumah harus ditunjukkan pihak penjual atau pengembang untuk memastikan sertifikat tersebut dalam keadaan aman. Anda juga bisa meminta notaris menyimpan sertifikat tersebut hingga pelunasan properti.

Kredit Pemilikan Rumah (KPR)/Kredit Pemilikan Apartemen (KPA)

Cara pembayaran dengan kredit yang melibatkan pihak bank, baik KPR atau KPA, bisa dikatakan metode paling umum yang digunakan para pembeli. Dengan metode ini, pihak bank akan terlebih dulu membayar pelunasan rumah atau apartemen kepada pengembang atau penjual. Setelah itu, Anda akan membayar hutang ke bank dengan cara mencicil dalam kurun waktu yang cukup lama.

Kelebihan: KPR atau KPA tidak membutuhkan modal besar karena Anda hanya perlu menyiapkan tanda jadi dan uang muka. Risiko hukum pun sangat minim karena pihak bank mengecek seluruh dokumen kepemilikan dan IMB properti. Kalaupun terjadi permasalahan hukum, bank akan maju sebagai pihak yang berkepentingan terhadap rumah atau apartemen.

Kekurangan: Harga properti menjadi lebih mahal karena Anda harus membayar bunga bank ditambah biaya-biaya lain yang diperlukan. Selain itu, proses pengajuan kredit pun terbilang rumit karena harus melengkapi dokumen yang cukup banyak. Anda juga memiliki kewajiban hutang dalam jangka waktu lama.

Tips

  1.    Pilih bank yang memiliki reputasi baik dalam hal KPR dan KPA.
  2.   Bandingkan skema angsuran, syarat pengajuan KPR, jenis bunga hingga kebijakan tentang pelunasan lebih awal dari beberapa bank penyedia kredit.
  3.   Pembayaran DP sebaiknya dilakukan setelah surat persetujuan kredit diterima.
  4.    Simpan dan administrasikan seluruh dokumen perihal kredit dengan baik (Surat Persetujuan Kredit, akad kredit, fotokopi sertifikat dan IMB properti, dan sebagainya).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top